Adakah kaitan Hewan Qurban dan Nabi Isa AS disalib?

Saudara kaum muslimin banyak bertanya mengapa nabi Isa AS harus disalib bahkan sebelum itu mengalami penyiksaan bagaikan binatang? Apalagi nabi yang seperti itu dipercayai sebagai Tuhan yang Maha Kuasa. Bukankah Tuhan itu Maha dari segalanya sehingga tidak mungkin ada yang dapat menghinaNya atau membunuhNya?

Penjelasan atas pertanyaan ini membutuhkan aku melihat sejarah “Qurban” yang dirayakan umat Islam pada hari Idul Adha seperti dalam Surah 22:34-38.

Ada dua hal yang kupelajari yang mendasari muslimin dalam merayakan Idul Adha, pertama adalah ayat dari Surah 108:1-3 “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan sembelihlah hewan ( Qurban). Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”

Dan yang kedua dari Surah 42:13 dimana menyembelih hewan qurban di hari ‘Idul Adha ini termasuk meneladani sunnah Ibrahim, sebagaimana sabda Nabi SAW : “Sunnatu abikum Ibrahim.” (Sunnah bapakmu Ibrahim) (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Seperti telah diketahui umum, cerita mengenai Ibrahim (disebut juga Abraham) tertulis juga dalam kitab Torah Musa yakni dalam Kejadian 22:1-14. Dalam cerita ini nabi Abraham diminta Tuhan untuk mengorbankan anaknya, Abraham pun patuh dan mau melaksanakannya. Oleh karena kepatuhan Abraham, Tuhan menghargainya dan menggantikan anaknya dengan memberi korban seekor binatang. Itulah mulainya ibadah kurban ini yang intinya untuk mematuhi perintah Tuhan walaupun  ada juga aspek lainnya yakni untuk memberi dagingnya kepada fakir miskin.

Selanjutnya setelah kepada Abraham kurban itu dikenalkan, Tuhan meneruskan ibadah tersebut melalui nabi Musa, terutama agar bani Israel melakukannya sebagai korban penghapus dosa pada Tuhan. Ini tercatat dalam kitab Torah Musa dari Imamat pasal 4 sampai 6. Ada bermacam-macam korban yang harus diberikan untuk menghapus dosa bani Israel yang berbeda-beda. Misalnya dalam Imamat 4:27 jika yang berbuat dosa itu dari rakyat jelata maka ia harus membawa seekor kambing betina yang tidak bercela untuk korban penghapus dosanya. Ayat 29 selanjutnya mengatakan ‘ lalu haruslah ia meletakkan tangannya ke atas kepala korban penghapus dosa dan menyembelih korban itu di tempat korban bakaran’.

Tuhan maha pengampun, Dia bersedia mengampuni setiap dosa bani Israel namun ada aturan ibadah “QURBAN” yang perlu dilakukan bani Israel sebelum mendapat pengampunan dosa. Dalam ibadah seperti ini yang selalu harus ada adalah DARAH sebab tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan. Kitab Imamat 17:11 menegaskan bahwa nyawa makluk ada didalam darahnya. Jadi peran darah yang tercurah  dalam setiap korban binatang itu adalah penting untuk membayar perdamaian dengan Tuhan atas dosa-dosa manusia.

Supaya ibadah “QURBAN” itu dapat diterima, ada beberapa hal penting yang harus dipenuhi oleh pelaksananya: 1)Mengaku dosa sendiri 2)Bertobat 3)Harus korban dari binatang yang tidak cacat 4)Percaya 5)Memotong di tempat yang khusus ditunjuk oleh Tuhan. Persyaratan ini semua tertulis dalam kitab Torah Musa. Bila kondisi ini tidak dapat dipenuhi maka QURBAN itu tidak berkenan pada Tuhan.

Sekarang dapatlah aku lihat sedikit banyak pengaruh budaya dan peraturan agama bani Israel yang sampai waktu nabi Isa AS hidup disanapun masih berlaku. Bagi bani Israel mengorbankan binatang untuk menghapus dosa telah menjadi hal yang biasa. Hal yang tidak biasa adalah mengorbankan manusia untuk menghapus dosa. Perbedaan inilah yang menjadi diskusi menarik, kalo korban binatang untuk menghapus dosa sehari-hari, kalo “manusia” yang dikorbankan dosa apa yang dihapus?

Secara khusus Alkitab mengatakan nabi Isa mengorbankan diriNya satu kali saja, mati terhina disalib,berdarah-darah untuk menanggung dosa banyak orang (Ibrani 9:28). Maksudnya dengan korban nabi Isa ini, tidak akan lagi diperlukan korban binatang sehari-hari dari bani Israel. Nabi Isa telah menggenapi apa yang tidak sempurna dalam korban binatang penghapus dosa sebab walaupun Dia hanya melakukan itu sekali namun pengaruhnya adalah untuk selama-lamanya. Nabi Isa AS juga adalah korban yang sempurna oleh sebab Dia tidak pernah berdosa.

Bila Tuhan memulai perdamaian dengan manusia melalui ibadah korban binatang dan kemudian Dia mengakhirinya dengan mengorbankan manusia yang adalah AnakNya sendiri, bukankah ini suatu kesinambungan dari rencana Tuhan yang Maha Mulia? Bahkan iblispun tidak mengetahui rancanganNya itu, bila dia tahu bagaimana mungkin dia mau mendorong pemimpin-pemimpin agama bani Israel untuk menyalibkan nabi Isa? Bagaimana mungkin dia menggoda salah seorang murid nabi Isa AS untuk mengkianatiNya? Pikiran iblis dengan membunuh nabi Isa AS, dia telah membunuh Anak Allah sehingga dia sendiri yang tetap berkuasa didunia dan dapat terus menerus menipu umat manusia. Kenyataannya Tuhan menyimpan rencana muliaNya bahwa dengan kematian nabi Isa AS, telah diberikan “QURBAN” sempurna agar manusia menerima perdamaian dan pengampunan dosa selamanya.

Semoga ini memberi informasi kepada saudara umat Islam yang sering bertanya mengapa harus ada korban dan curahan darah nabi Isa AS di kayu salib untuk menghapus dosa manusia. Salam sejahterah.